Jumat, 25 April 2014 - 21:35:51 WIB
Jangan Berhenti Sebelum Doktor
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Motivasi Islam - Dibaca: 1212 kali

Oleh : H.Fahrizal Ischaq,Lc.

Sejarah peradaban Islam mencatat tentang banyaknya ilmuan muslim yang ikut andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dahulu, ketika Islam masih dalam masa keemasannya, ilmuan-ilmuan muslim ini berkontribusi dalam merumuskan rahasia-rahasia alam, yang dipakai sampai saat ini.  Sebut saja al-Khawarizmi yang memperkenalkan ilmu logaritma dan aljabar. al-Batani dengan ilmu astronominya. Ibnu Sina (Avicenna) yang menyusun Al Qanun Fit Thibbi, sebuah textbook yang menjadi referensi wajib fakultas kedokteran sampai pada zaman Renaissance. Tak lupa juga dengan Ibnu Rusyd (Averroes) yang ahli dalam ilmu filsafat. Meski luhur dalam ilmu pengetahuan, ilmua-ilmuan muslim ini tidak meninggalkan kewajibannya untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sayangnya, sejarah itu tinggal sejarah. Penghargaan generasi muslim saat ini terhadap ilmu semakin merosot. Maka tak heran jika umat Islam sekarang menjadi bangsa yang terbelakang. Dengan mudah dapat diombang-ambingkan oleh musuh Islam. Hanya dengan menghidupkan ajaran dan nilai-nilai Islamlah kita bisa menggapai zaman keemasan lagi.

“Jangan berhenti sekolah sebelum doktor” begitulah pesan singkat Seikh Dr.Rojab Dieb kepada penulis dalam kunjungannya di Pesantren Modern Al-Amanah minggu lalu, bagaimana bisa seorang ahli Sufi dan Guru Besar Thoriqoh yang mempunyai ribuan bahkan jutaan jamaah dzikir bisa berpesan seperti itu, di sisi lain dunia sufi sangat “alergi” dengan perihal duniawi termasuk gelar akademis di dalamnya, ini mengisyaratkan begitu pentingnya untuk menjadi muslim yang intelek, ahli pada bidangnya mampu menguasai bidang-bidang strategis, sungguh indah jika kelak kita menjadi seorang dokter spesialis yang sangat mengusai fikih, menjadi insinyur yang hafal Al-Qur’an dan menjadi astronom yang juga sekaligus mursyid thoriqoh. Saya yakin Anda pasti bisa!

 

            “Jadilah Muslim yang Intelek, Jangan Jadi Intelek yang Muslim”, pesan pendiri Gontor KH.Imam Zarkasyi kepada santrinya, kata-kata ini sangat sederhana, tapi cukup dalam maknanya, jangan hanya menjadi seorang pakar yang beragama Islam, sangat menguasai astronomi contohnya, tapi awam akan syarat dan rukun salat atau, Ahli medis dan kedokteran tapi tidak menguasai thoharah, ini yang sangat dikuatirkan, Islam harus menjadi instrument penting yang menjiwai berbagai bidang yang kita tekuni, ke depan dunia Islam sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin muslim yang ahli di bidangnya, posisi-posisi strategis yang selama ini diduduki oleh non-muslim seharusnya sudah bisa kita “rebut” kembali, kita harus ingat Khowarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Al-Ghozali adalah masa lalu, lalu siapakah yang menjadi Khowarizmi hari ini, Andakah?

 

*Pemimpin Umum Majalah Imtiyaz sekaligus anggota istimewa Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4)








    Admin Zyi



Copyright © 2013 by al-Amanah's Teams